Newsflash

Catatan Kuliah


Google Ads


Google Search

Webscqolbu.com

Login Form



We have 5 guests online

Support

Rangkaian Acara Tradisi PDF Print E-mail
Written by sarwono   
Saturday, 04 April 2009 06:26

Rangkaian Acara Tradisi

1.      Tabur Bunga di Kali Opak

Pada Tradisi 2008, acar tabur bunga dilakukan tidak hanya untuk mengenang Mas Ginanto yang gugur dalam tugas pada bulan Desember 1978. Tetapi juga untuk mengenang 3 rekan kita dari Cabang Sleman yang gugur saat melaksanakan UKT Nas 2007 pada bulan September 2007 kemarin. Mereka adalah Mas Fadhli Syaerozi, mas Sri Bayu Budi Wibowo dan mas Leo Riza Sinulingga, semuanya adalah kader-kader potensial Merpati Putih. Mereka semua sangat aktif dalam kepengurusan organisasi merpati putih cabang Sleman. Bahkan sejak mereka menjadi anggota Merpati Putih di Sleman (untuk mas Fadli dulunya dari Cabang Indramayu dan mas Bayu dari Maos Cilacap), mereka tidak pernah absen menjadi panitia tradisi.

2.      Nyekar (ziarah) ke Ngulakan, Wates

Di Ngulakan, Wates, Kulon Progo terdapat makam Sang Guru Saring Poernomo, makam Bu Saring, makam Mas Iyas dan makam Mas Budi, serta makam beliau lainnya. Di sini kita berziarah sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa-jasa beliau semasa hidup.

Di Ngulakan terdapat kediaman Mas Poeng (Poerwoto Hadi Purnomo) semas kecilnya yang terletak tidak jauh dari bukit tempat makam berada. Waktu tempuh dari Parangkusumo ke Ngulakan menggunakan kendaraan yang telah disediakan oleh panitia, perjalanan lebih kurang 1,5 jam. Di Ngulakan terdapat tulisan “MERPATI PUTIH bukanlah hanya suatu ilmu beladiri, MERPATI PUTIH bukanlah cara bagaimana mengalahkan lawan-lawan kita. Tetapi MERPATI PUTIH adalah anugerah pemberian dari Allah, bagaimana kita dapat mengalahkan diri kita sendiri”.

3.      Melintasi Gunung Botak

Melintasi Gunung Botak dilakukan setelah peserta Tradisi selesai melaksanakan acara Tabur Bunga di Kali Opak. Gunung Botak merupakan nama dari sebuah bukit yang terletak di utara pantai Parangkusumo dengan jarak tempuh sekitar 8 km. Perjalanan melintasi Gunung Botak ini sebagai pengganti rute perjalanan Jogja-Parangkusumo. Serta menjadi sebuah prosesi perenungan tiap peserta yang dengan jalan berliku-liku, naik turun, ada jalan yang enak dan runcing, merupakan gambaran kehidupan dimana kehidupan ada untung-rugi, senang-sedih, keberhasilan dan kegagalan.   

4.      Jamasan

Prosesi selanjutnya setelah sampai di Parangkusumo, seluruh peserta melakukan acara Jamasan dimana tersedia tiga kuali yang berurutan berisi air bersih, air merang ketan hitam dan air bunga. Air merang dimaksudkan sebagai pembersihan diri peserta dan air bunga sebagai pengharum, sehingga dengan berbekal kebersihan diri seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian tradisi dengan hati, jiwa dan pikiran yang jernih, dengan demikian mampu mengambil hikmah dari setiap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan.

5.      Menghantar Matahari Terbenam

Menghantar matahari terbenam dilakukan pada waktu senja yaitu pada saat menjelang matahari terbenam smpai masuk waktu maghrib. Hal ini melukiskan waktu yang telah kita lalui selama ini (dimulai dari kita lahir sampai dengan saat ini), juga perenungan atas apa yang telah kita lakukan selam hidup kita. Apa yang telah kita perbuat pada bagi diri sendiri, keluarga, orang lain dan juga masyarakat serta bangsa dan negara kita. Melatih diri kita untuk lebih mengenal diri sendiri agar menjadi seorang yang selalu mawas diri terhadap tindakannya.

6.      Renungan Malam

Acara renungan malam dilakukan tepat pada saat tengah malam di tepi pantai Parangkusumo. Diiringi deburan ombak pantai selatan yang besar, kita diajak untuk merenungi sesungguhnya diri kita lemah tanpa kekuatan. Dan jika dibandingkan dengan laut diri ini kecil, jadi tidak selayaknya kita sombong dan membanggakan diri.

7.      Napak Tilas

Acara napak tilas dimaksudkan untuk sebagai uji kesiapan fisik dan mental peserta Tradisi dalam menempuh perjalanan yang pernah dilakukan oleh Dewan Guru dan para senior dalam berlatih. Acara napak tilas dilakukan dengan perjalanan malam ketujuh tempat. Ketujuh tempat tersebut yaitu :

*       Sawangan/tempuran

*       Papan Suwung

*       Parangkusumo

*       Parangtritis

*       Parangendog

*       Gua Langse

*       Makam Syeh Maulana Maghribi dan syeh Belabelu

8.      Menyambut Matahari Terbit

Menyambut matahari terbit dilakukan setelah sholat shubuh, dari menjelangmatahari terbit di ufuk timur. Pada intinya menyambut matahari terbitdimaksudkan sebagai refleksi diri kita untuk dapat menapaki hari esok lebih baik dari hari kemarin. Dalam keheningan malam pagi, peserta memacu semangat juang menyambut hari esok yang cerah, secerah sinar mentari yang meberikan kehidupan bagi alam semesta beserta isinya. jadi disinilah kita memutuskan untuk maju menjadi lebih baik. Lebih baik dengan tujuan yang telah kita tetapkan. Merubah hal-hal yang tidak baik pada diri kita menjadi orang yang bersikap, berwatak dan berperilaku luhur seperti yang dimanfaatkan Sang Guru.

9.      Minum air 7 Sumber

Air 7 sumber mempunyai rasa dari kandungan yang berbeda-beda dan Gentong yang dipergunakan berasal dari tanah liat yang dikumpulkan dari perwakilan cabang-cabang di seluruh Indonesia yaitu dari Aceh sampai Irian Jaya. Makna yang dapat ditangkap adalah Tradisi merupakan wadah pertemuan bagi seluruh anggota Merpati Putih yang berbeda status, latar belakang budaya dan sebagainya. setelah bertemu di tempat dan waktu yang sama menyatukan hati dan pikiran demi persatuan dan kesatuan yang erat antar anggota Merpati Putih walaupun terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Secara ilmiah air dari 7 sumber mengandung bahan-bahan/kandungan mineral yang berbeda maka kandungan tersebut akan saling melengkapi sehinga terpenuhi semua kebutuhan unsur-unsur tubuh demikian pula juga anggota Merpati Putih antara satu dengan yang ain saling mengisi kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga tercipta kesatuan dan kekuatan anggota Merpati Putih.

Angka 7 dalam filosofi jawa, angka ganjil dipakai untuk menggenapi angka ganjil yang lain. Makna yang dapat ditangkap sama pula dengan harapan agar antar anggota Merpati Putih saling melengkapi satu dengan yang lain.

Dalam rangkaian menghantar matahari terbenam dan menyambut matahari terbit selalu diawali dengan dan diakhiri dengan Garuda Benteng yang mempunyai maksud membentengi diri kita dari gangguan yang tidak kita inginkan serta faktor-faktor negatif dari alam, karena dalam garuda Benteng tersebut dilakukan di alam terbuka. Disini sebenarnya Garuda benteng sebagai visualisasi doa mohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Sunday, 26 April 2009 15:22
 

Newsflash