Catatan Kuliah


Google Search

Webscqolbu.com

Login Form



We have 3 guests online

Support

Tradisi Merpati Putih PDF Print E-mail
Written by sarwono   
Saturday, 04 April 2009 06:15

Tradisi

Tradisi adalah upaya pelestarian sejarah keilmuan Merpati Putih. Tradisi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1971 menjelang pergantian tahun baru jawa yaitu menjelang 1 Suro (Muharam). Kemudian berganti menjadi tanggal 31 Desember menjelang tanggal 1 januari, dan kemudian akhirnya Tradisi kembali ditetapkan pelaksanaannya pada bulan Suro. Saat ini Tradisi tidak dilaksanakan tepat menjelang 1 Suro dengan pertimbangan kondisi Parangkusumo yang ramai penuh sesak oleh masyarakat umum dan pedagang, sehingga mengganggu acara Tradisi.

Acara Tradisi diawali pembukaan di alun-alun selatan dengan acara perguruan kemudian berangkat menuju Parangkusumo salah satu pantai di Yogyakarta. Pelaksanaan Tradisi pertama kali (1971) diberangkatkan dari Bumijo pada pagi hari yang diikuti sekitar 50 orang dari Cabang Yogyakarta sendiri. Perjalanan dari Bumijo-parangkusumo ini ditempuh dengan berjalan kaki pulang pergi. Dalam perjalanan menuju Parangkusumo mereka menyeberangi arus kali Opak karena pada waktu itu belum ada jembatan Kretek

Pada Bulan Desember  1978 dalam perjalanan melewati arus kali Opak yang cukup deras karena musim penghujan Mas Poeng menunjuk lima orang anggota untuk mencari route jalan dalam melintasi kali Opak, tapi menjelang ujung sungai terjadi musibah, 3 dari 5 orang pemandu jalan tersebut terseret arus kali opak. dari ketiga orang tersebut dua orang bisa diselamatkan dan satu orang yaitu Mas Ginanto hilang terseret  arus Kali Opak dan tidak dapat diketemukan, meskipun sudah dilakukan pencarian dengan menyusuri kali Opak sampai laut selatan dan menurunkan Marinir Amphibi (KIPAM : Komando Inti Para Amphibi) dari Surabaya dan anggota-anggota RPKAD/KOPASSUS dari Grup II Kartosuro yang kebetulan pada waktu itu ikut acara Tradisi dan  dibantu sepenuhnya oleh Tim SAR dan Pencinta Alam DIY. Oleh karena itu dalam acara Tradisi selanjutnya tidak melewati kali Opak dan naik kendaraan dengan memutar melewati jembatan Siluk dan turun di kaki gunung Botak, kemudian berjalan melewati gunung Botak menuju pantai Parangkusumo. Perjalanan melewati gunung Botak ini sebagai pengganti rute perjalanan Yogya-Parangkusumo. Dan dalam acara-acara selanjutnya sebelum melewati gunung Botak selalu diadakan acara Tabur Bunga di Kali Opak guna mengenang Mas Ginanto yang hilang di kali Opak pada waktu itu.

Dalam pelaksanaan Tradisi sekarang, setelah acara pembukaan peserta dibagi menjadi dua. Rombongan pertama terdiri dari Pewaris, Senior dan perwakilan cabang-cabang mengadakan acara Nyekar ke makam Bapak Saring HP (Sang Guru) dan Ibu Saring HP di Ngulakan Wates, Kulon Progo. Sedangkan rombongan kedua, Tabur Bunga di kali Opak. Kedua rombongan akhirnya bersama-sama melintasi gunung Botak menuju Parangkusumo. Prosesi selanjutnya setelah sampai di Parangkusumo, seluruh peserta melakukan jamasan dimana tersedia tiga kuali yang berisi air bersih, air merang ketan hitam, dan air bunga. Air merang dimaksudkan sebagai pembersihan diri peserta dan air bunga sebagai pengharum, sehingga dengan berbekal kebersihan diri seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian acara Tradisi dengan hati, jiwa dan pikiran yang bersih.

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Sunday, 26 April 2009 15:35